Vanili merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi, jika dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya. Penggunaan vanili telah meluas keberbagai aspek pasar, sehingga didalamnya melibatkan berbagai jenis aspek-aspek pemasaran. Akan tetapi seringkali perkembangan pasar vanili tidak memiliki kestabilan, sehingga seringkali terjadi fluktuasi pemasaran vanili.
Secara harfiah, baik buruknya kualitas pasar dari komoditas vanili, tidak hanya ditentukan oleh kualitas dari tanaman vanili itu sendiri. Ada banyak hal yang menentukan kualitas pasar vanili, diantaranya adalah petani, pengumpul, eksportir. Serta tata niaga yang digunakan dalam system pasar.
Perkembangan pengolahan vanili tidak hanya melibatkankan lingkungan domestik, akan tetapi juga melibatkan lingkungan global, sebagai tujuan utama dalam rantai pasar perdagangan vanili. Semakin lama, atau semakin panjang rantai tata niaga yang dilalui, maka semakin besar pengaruh yang diberikan terhadap kualitas jual beli dari vanili, khusunya berpengaruh pada harga jual vanili itu sendiri.
Tanaman vanili (Vanilla planifolia Andrews atau Vanilla fragrans), bukanlah tanaman asli Indonesia. Secara historis, tanaman tahunan ini baru masuk ke Indonesia pada tahun 1819. Namun demikian, tanaman vanili tumbuh lebih subur dan lebih produktif di Indonesia yang beriklim tropis, dibandingkan dengan negara asalnya (Mexico) dan negara produsen vanili lainnya. kualitas vanili Indonesia yang dikenal dengan “Java Vanili” masih yang terbaik di Dunia. Hal ini didasarkan atas kadar vanilinnya yang cukup tinggi, yakni sekitar 2,75 persen. Kadar tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar vanili Madagaskar yang hanya 1,91-1,98 persen, Tahiti 1,55-2,02 persen, Mexico 1,89- 1,98 persen, dan Sri Lanka 1,48 persen. Di tinjau dari perspektif spasial dan bisnis, maka Indonesia unggul secara komparatif dibanding negara-negara produsen vanili lainnya di dunia.
Secara umum, vanili bernilai ekonomis tinggi dan fluktuasi harganya relative stabil jika dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. Namun pada kenyataannya ironi, meskipun kualitas vanili Indonesia menduduki posisi paling tinggi di Dunia, tetapi secara kuantitas Indonesia baru bisa memasok sekitar 10 persen dari total kebutuhan pasar dunia. Meskipun posisinya menduduki urutan ketiga di dunia, namun angka pasokan tersebut masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Madagaskar yang mampu memasok sekitar 70 persen pasar dunia dan Comoro Island sekitar 12 persen.
A. Kegunaan Vanili
Vanili (Vanilla planifolia) adalah tanaman penghasil bubuk vanili yang biasa dijadikan pengharum makanan. Nilai tambah terbesar dalam agroindustri vanili adalah pengolahan dan pengeringan sampai menjadi buah vanili kering. Sebab peningkatan harganya bisa mencapai enam setengah kali lipat dari harga vanili segar. Dengan asumsi harga vanili segar (kadar air 80%) per kg. Rp 200.000,- dan harga vanili kering (kadar air 35%) Rp 3.000.000,- maka tiap kg. vanili segar akan menjadi sekitar 4,3 ons vanili kering. Biaya pemeraman dan pemrosesan vanili segar sampai menjadi vanili kering tiap kilogramnya pasti hanya sebatas puluhan ribu rupiah. Hingga nilai tambah yang akan diperoleh para petani dari agroindustri pengeringan vanili, akan sangat tinggi.
Dalam kehidupan sehari-hari, aroma vanilin digunakan untuk pewangi makanan dan minuman, farmasi, kosmetika dan parfum. Industri makanan dan minuman, umumnya menggunakan ekstrak vanilin. Industri farmasi menggunakannya dalam bentuk tincture sementara untuk parfum berupa tincture dan absolute. Sebenarnya teknologi modern sudah berhasil membuat vanilin sintetis dari bahan baku eugenol (minyak daun cengkih), dengan cara mengubah jumlah dan bentuk rantai karbonnya. Namun konsumen dan kalangan industri tetap lebih menyukai aroma vanilin asli dari polong buah vanili. Itulah sebabnya apabila pasokan kurang, maka harga buah vanili kering akan melambung sampai mencapai jutaan rupiah per kg.
Dalam industri pangan vanili digunakan sebagai flavoring agent pada produk makanan dan minuman seperti pada es krim, minuman ringan, coklat, permen, puding, kue, dan minuman keras. Sedangkan dalam industri non pangan vanili banyak digunakan sebagai bahan untuk penambah wewangian (fragrance). Selain itu, vanili juga dapat dimanfaatkan sebagai zat antimikroba untuk mencegah jamur dan kapang pada puree buah, serta zat antioksidan pada makanan yang banyak mengandung komponen tak jenuh. Kombinasi vanillin dengan 500 ppm asam askorbat pada pH 3 mampu mencegah pertumbuhan mikroba alami dan kontaminan pure strawberry yang disimpan selama 60 hari pada suhu ruang. (Cerutti et al., 1997). Dengan begitu luasnya kegunaan vanili dan peningkatan ekspor vanili Indonesia, komoditi ini sebenarnya mempunyai prospek pengembangan yang sangat cerah.
B. JALUR PEMASARAN
Secara umum, jalur pemasaran vanili tidak berbeda dengan komoditi pertanian lainnya. Di pemasaran dalam negeri, produsen menjual produk ke pedagang pengumpul atau agen eksportir. Barulah kemudian produk tersebut sampai ke tangan eksportir. Seperti telah disebutkan sebelumnya, sebagian besar tujuan perdagangan vanili adalah untuk ekspor. Pada praktiknya, keadaan pasar sering dipengaruhi oleh orang yang pertama kali melakukan proses transaksi. Terdapat beberapa situasi pemasaran yang terjadi, yaitu
1. Pihak petani langsung menjual produk ke tengkulak/pedagang perantara, atau agen eksportir. Dalam hal ini, petani memiliki posisi tawar yang lemah, harga lebih banyak dipengaruhi oleh pembeli.
2. Pihak pembeli yang mencari petani. Pada situasi ini, petani dapat memperoleh harga yang relatif lebih baik. Hal ini seringkali terjadi jika komoditi ini sedang mempunyai harga yang tinggi, terbukti dengan adanya pemesanan dengan uang muka terlebih dahulu oleh pembeli kepada petani sementara vanili belum dipanen.


Posisi Indonesia sebagai eksportir vanili dunia terus turun. Pada tahun 2008, Indonesia masih menjadi produsen vanili dunia nomor dua setelah Madagaskar. Pada tahun 2009, posisi Indonesia sudah terdepak dari lima besar produsen dunia.
Indonesia sebenarnya sangat berpotensi menjadi produsen vanili dunia kelas atas. Tata niaga vanili juga perlu diiringi pola kemitraan untuk menjaga kualitas. Beberapa tahun lalu, vanili Indonesia yang bermutu rendah ditolak negara-negara maju. Untuk jalur pemasaran luar negeri ada beberapa pihak yang mungkin terlibat, yaitu agen eksportir, prosesor, tengkulak, dan pedagang. Jalur perdagangan vanili dapat digambarkan pada Gambar 1. Pemasaran tersebut juga dapat menjadi lebih pendek. Petani menjual vanili kepada pedagang pengumpul atau pedagang besar dan kedua jenis pedagang tersebut langsung menjualnya pada eksportir, seperti ditunjukkan pada Gambar 1 bagian bawah.

Gambar 1. Jalur Pemasaran Perkebunan Vanili



Daerah-daerah penghasil vanili antara lain :
1. Ambarawa : Jawa Tengah
2. Temanggung : Jawa Tengah
3. Wonosobo : Jawa Tengah
Selain itu, banyak juga terdapat di daerah Jawa Timur, Lampung, NTB, DI YogYakarta,dan Sulawesi Selatan.
C. ASPEK PEMASARAN
- HARGA
Pada aspek pemasaran komoditi vanili ini akan dibahas tentang kondisi harga jual di tingkat petani dan pedagang pengumpulnya serta jalur pemasaran yang terjadi di lokasi penelitian dan secara umum di Indonesia. Harga buah vanili yang diperdagangkan sangat bergantung pada kualitas atau tingkat mutu buah vanilinya. Umumnya di tingkat petani, vanili dijual dalam kondisi buah segar. Adapun jalur pemasaran buah vanili dimulai oleh masing-masing petani ke pedagang pengumpul atau langsung ke pedagang besar yang mempunyai kontak langsung dengan pembeli di luar negeri. Namun, pada umumnya jalur penjualan ke pedagang pengumpul relatif lebih banyak dilakukan oleh petani vanili.
 Harga vanili di pasar internasional
Harga vanili di pasaran sangat ditentukan oleh tingkat kualitas buah vanili yang dijual. Umumnya perdagangan buah vanili di tingkat petani dilakukan dalam kondisi buah vanili segar (basah), sehingga tingkat harga yang terjadi merupakan harga yang paling rendah. Perbedaan harga antara harga vanili basah dan vanili kering di lokasi cukup tinggi dengan perbandingan yaitu sebesar 1 : 5. Tinggi atau rendahnya harga vanili ditingkat petani ini sangat dipengaruhi oleh tingkat harga yang ada di pasaran dunia, semakin tinggi harga di pasaran dunia, semakin tinggi pula harga vanili di tingkat petani, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, fluktuasi harga vanili di tingkat petani sangat ditentukan oleh fluktuasi harga vanili dunia. Dari data selama 5 tahun terakhir, harga buah vanili segar mengalami fluktuasi yang sangat tinggi, pada periode tahun 2002-2003 mengalami tingkat harga yang sangat tinggi yaitu Rp 200.000 per kg vanili basah dan untuk tahun 2005 mengalami harga yang sangat rendah yaitu Rp 20.000 per kg vanili basah. Perkembangan harga vanili basah ditingkat petani selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Perkembangan Harga Vanili Basah di Kabupaten Manggarai
Tahun Harga (Rp/kg)
2000 45.000
2001 75.000
2002 200.000
2003 200.000
2004 75.000
2005 20.000
Rata-rata 102.500
Sumber Data Primer Petani (2005).



Terjadinya harga yang tinggi pada waktu itu (tahun 2002 - 2003) disebabkan oleh adanya kegagalan panen akibat taufan di Madagaskar dan tingginya permintaan vanili pada saat itu. Sedangkan rendahnya harga jual vanili saat ini (tahun 2005-sekarang) disebabkan oleh tingginya pasokan vanili dunia dari Madagaskar dan rendahnya nilai jual yang ditawarkan oleh pemasok dari negara itu.
Tingkat harga impor vanili dengan tingkat mutu I selama periode 1999 - 2001 di negara pengimpor utama komoditi ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup tinggi. Informasi harga impor vanili mutu I di Amerika Serikat, Prancis dan Jerman dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.Harga Impor Vanili Mutu I (US$/kg) Tahun 1999-2001
Negara Pengimpor Tahun
1999 2000 2001
Amerika Serikat 21 34 87
Prancis 27 41 86
Jerman 27 36 102
Rata-rata 24 37 92
Sumber: Jurnal Fruitrop, Januari 2003.
 Harga Vanili di Pasar Domestik
Harga vanili Indonesia di pasar domestik maupun pasar internasional kini hancur, karena kualitasnya tidak terjaga dengan baik. Harga vanili saat ini berada pada titik terendah antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Padahal harga sebelumnya mampu menembus Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per kilogram. Harga vanila Indonesia jatuh karena dipengaruhi kualitas produk yang rendah akibat saat dipanen vanili belum matang.
D. PERMINTAAN DAN PENAWARAN
1. Permintaan
Perkebunan vanili memiliki hasil utama berupa buah vanili sebagai bahan baku pembuatan vanila. Selama ini, Indonesia memenuhi permintaan pasar dunia vanili berupa buah vanili utuh kering (whole vanilla) dan buah vanili bentuk lain (other vanilla). Berdasarkan data ekspor selama ini, buah vanili kering Indonesia banyak dikirim ke Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Swiss. Umumnya petani menjual dalam bentuk buah vanili segar, sedangkan buah vanili kering diolah oleh pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul menentukan tingkat mutu dan benih buah vanili kering yang dikirim ke eksportir.
Berdasarkan data permintaan dunia akan vanili yang telah dikumpulkan oleh Agribusiness Development Centre (2000) jumlah kebutuhan dunia sebesar 2.500 sampai 3.000 ton vanili kering per tahun dengan perincian kebutuhan vanili untuk Amerika Serikat sebesar 1.500 - 2.000 ton per tahun, Canada sebesar 150 - 200 ton per tahun, Uni Eropa (Prancis, Jerman, dan lainnya) sebesar 700 - 800 ton per tahun, Jepang sebesar 50 - 80 ton per tahun, Swiss sebesar 35 - 55 ton per tahun, dan Australia 10 - 20 ton per tahun. Gambaran konsumsi dunia untuk vanili dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Besarnya Konsumsi Vanili Dunia per Tahun

Berdasarkan volume ekspor vanili selama 10 tahun terakhir, Indonesia rata-rata mengekspor sebanyak 2.315 ton dengan nilai sebesar US$ 17.367 ribu. Perkembangan rata-rata volume ekspor selama 10 tahun terakhir sebesar 140 % untuk kenaikan volume, dan 15% untuk kenaikan nilai ekspor. Gambaran lengkap besarnya ekspor vanili Indonesia selama 10 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 3. dan Tabel 3.

Gambar 3. Banyaknya Ekspor Vanili Indonesia Selama 10 Tahun Terakhir


Adanya perbedaan yang sangat mencolok antara besarnya kebutuhan dunia dan kenyataan volume ekspor Indonesia pada 2 tahun terakhir menunjukkan bahwa kebutuhan dunia atau pasar dunia untuk komoditi vanili mengalami perluasan atau peningkatan. Dengan mencermati data tujuan ekspor vanili Indonesia yang mengalami peningkatan sangat drastis pada dua tahun terakhir, ternyata ada pasar baru selain pasar tradisional (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Swiss) yang sangat besar nilai ekspornya yaitu ke Cina. Besarnya ekspor selama dua tahun terakhir itu, ialah sebesar 3.000 ton pada tahun 2002 dan 6.000 ton pada tahun 2003.
Permintaan dalam negeri akan vanili khususnya dalam bentuk vanillin masih dipenuhi dari pasar impor karena Indonesia belum memiliki industri vanillin. Selain sebagai pengekspor vanili, Indonesia untuk keperluan tertentu masih juga melakukan impor buah vanili kering. Selama lima tahun terakhir jumlah rata-rata buah vanili yang diimpor sebanyak 767 ton dengan nilai US$1.810.000 dengan perkembangan volume impor rata-rata pertahun sebesar 251%. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Volume, Nilai, dan Perkembangan Ekspor Vanili Indonesia Tahun 1994 - 2003
Tahun Volume
(ton) Nilai
(000 US$) Perkembangan (%)
Volume Nilai
1994 629 22.494 - -
1995 632 17.452 0,48 (22,41)
1996 539 12.726 (14,72) (27,08)
1997 507 9.145 (5,94) (28,14)
1998 729 8.764 43,79 (4,17)
1999 339 5.497 (53,50) (37,28)
2000 350 8.503 3,24 54,68
2001 468 19.309 33,71 127,08
2002 6.598 47.122 1.309,83 144,04
2003 12.363 22.660 87,37 (51,91)
Rata-rata 2.315 17.367 140 15
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2003) dan
Statistik Ekspor Indonesia (2004) .

Tabel 4. Volume, Nilai, dan Perkembangan Impor Vanili Indonesia Tahun 1999 - 2003
Tahun Volume
(ton) Nilai
(000 US$) Perkembangan (%)
Volume Nilai
1999 147 201 - -
2000 203 4.087 38,10 1.933,33
2001 3.006 2.617 1.380,79 - 35,97
2002 394 1.211 - 86,89 - 53,73
2003 83 933 - 78,93 - 22,96
Rata-rata 767 1.810 251,00 364,00
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2003) dan
Statistik Ekspor Indonesia (2004).







2. Penawaran
Jumlah produksi vanili di Kabupaten Manggarai pada tahun 2004 sebanyak 82 ton dari luas 978 ha lahan yang telah dikembangkan. Penyebaran produksi tanaman vanili di Kabupaten Manggarai ada pada 12 kecamatan. Data lengkap penyebaran produksi dan kondisi tanaman vanili di Kabupaten Manggarai pada tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Penyebaran Luas dan Produksi Tanaman Vanili di Kabupaten Manggarai pada Tahun 2004
Kecamatan Luas Areal Jumlah Produksi
(ton) Jumlah
KK
TBM TM TT/TR
Ruteng 16 24 10 50 4 95
Wae Rii 9 16 8 33 3 63
Langke Rembong 8 7 5 20 2 38
Satar Mese 15 23 10 48 4 91
Cibal 24 28 13 65 5 123
Reok 24 28 13 65 5 123
Lamba Leda 40 63 20 123 11 233
Poco Ranaka 1.535 49 32 116 8 220
Borong 25 62 20 107 11 203
Kota Komba 33 62 26 121 11 229
Elar 46 59 30 135 11 256
Sambi Rampas 30 38 27 95 8 180
Jumlah 305 459 214 978 82 1.854
Sumber : Laporan Dinas Perkebunan dan Holtikultura Kabupaten Manggarai,
2005
Keterangan: TBM = tanaman belum menghasilkan
TM = tanaman menghasilkan
TT/TR = tanaman tua/tanaman rusak


Banyaknya produksi dan luas lahan yang ditanami vanili di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2002 memperlihatkan bahwa Kabupaten Manggarai termasuk Manggarai Barat mempunyai luas areal penanaman vanili paling luas, yaitu 1.154,17 ha dengan jumlah produksi sebanyak 145,57 ton.
Sentra produksi dan penanaman vanili di Provinsi Nusa Tenggara Timur secara terperinci dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.Penyebaran Produksi dan Luas Areal Tanaman Vanili di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Tahun 2002
Kabupaten Luas Areal
(ha) Produksi
(ton)
Sumba Barat 114,01 49,44
Kupang 4,86 -
Lembata 62,75 0,12
Sikka 419,06 89,28
Ende 99,07 12,61
Ngada 571,45 226,73
Manggarai (+Manggarai Barat) 1.154,17 145,57
Jumlah 2.425,37 523,75
Sumber : Nusa Tenggara Timur Dalam Angka Tahun 2002
Provinsi dan kabupaten yang menjadi sentra penanaman vanili di Indonesia berdasarkan data dari Statistik Perkebunan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian RI dengan luas lahan lebih dari 50 ha tersebar di 10 provinsi yang terdiri atas 23 kabupaten. Perincian provinsi dan kabupaten daerah sentra produksi vanili di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 7. Sedangkan jumlah luas penanaman vanili untuk masing-masing provinsi pada Tahun 1999-2000 terlihat bahwa Provinsi Sulawesi Utara mempunyai luas lahan penanaman paling luas diikuti Provinsi Lampung dan Nusa Tenggara Timur. Adapun untuk tingkat produksi terbanyak dihasilkan dari Provinsi Sulawesi Selatan diikuti Nusa Tenggara Timur dan Lampung, data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 7. Sebaran Sentra Tanaman Vanili Menurut Kabupaten dan Provinsi Di Indonesia
Provinsi Kabupaten
Sumatera Utara Karo, Deli Serdang
Lampung Lampung Selatan, Lampung Tengah
Jawa Barat Sumedang
Jawa Tengah Brebes
Jawa Timur Banyuwangi
Bali Buleleng, Gianyar, Jembrana
Nusa Tenggara Timur Manggarai (+Manggarai Barat), Ngada, Sikka,
Sumba Barat, Ende, Lembata
Sulawesi Utara Minahasa, Bolaang Mangondow
Sulawesi Tengah Poso, Donggala
Sulawesi Selatan Tanah Toraja, Sinjai
Sumber : Hasil Pengolahan Statistik Perkebunan Indonesia Tanaman Vanili 1994-1996, Dirjen Perkebunan 1995.





Tabel 8. Sebaran Luas dan Produksi Tanaman Vanili Per Provinsi Di Indonesia Tahun 1999-2000
Provinsi Luas Tanam (Ha) Produksi (ton)
1999 2000 1999 2000
Nanggro Aceh Darusalam 69 70 3 3
Sumatera Utara 592 591 89 92
Sumatera Barat 53 54 10 10
Riau 0 0 0 0
Jambi 43 32 3 3
Sumatera Selatan 144 1.422 65 69
Bengkulu 97 97 10 10
Lampung 2.567 2.564 336 341
DKI Jakarta 0 0 0 0
Jawa Barat 951 961 106 112
Jawa Tengah 249 248 63 61
DI. Yogyakarta 18 18 2 3
Jawa Timur 1.125 1.190 157 167
Bali 752 749 7 12
Nusa Tenggara Barat 658 655 51 53
Nusa Tenggara Timur 1.767 1.773 343 351
Kalimantan Selatan 12 12 1 1
Kalimantan Timur 46 46 2 3
Sulawesi Utara 5.524 5.532 353 357
Sulawesi Tengah 676 694 65 71
Sulawesi Selatan 1.671 1.671 271 271
Sulawesi Tenggara 5 5 1 1
Maluku 57 56 2 3
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2003)

Jumlah produksi tanaman vanili di Indonesia selama 5 tahun terakhir memperlihatkan perkembangan yang terus meningkat dengan tingkat perkembangan luas tanaman sebesar 0,47% dan perkembangan produksi buah vanili sebesar 7,16%. Kondisi terakhir (2003) tanaman vanili di Indonesia telah mencapai produksi sebanyak 2.375 ton dan luas areal penanaman seluas 15.922 ha, data selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3. dan Tabel 9.

Gambar 3. Gambaran Perkembangan Luas dan Produksi Vanili Indonesia

Tabel 9. Luas Areal, Produksi, Produktivitas dan Perkembangan Tanaman Vanili di Indonesia
Tahun Luas (ha) Produksi
(ton) Produktivitas
(ton/ha) Perkembangan (%)
Luas Produksi
1999 15.630 1.792 0,11 - -
2000 14.692 1.681 0,11 - 6,00 - 6,19
2001 14.749 2.198 0,15 0,39 30,76
2002 15.922 2.731 0,17 7,95 24,25
2003* 15.922 2.375 0,15 - - 13,04
Rata-rata 15.383 2.155 0,14 0,47 7,16
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan (2003)
*) Angka sementara


Tabel 10. Volume dan Nilai Ekspor Vanili Indonesia, Pada Kurun 20 Tahun Terakhir (1990-2000).


Tabel 11. Tingkat Permintaan Vanili Menurut Negara-Negara Importir Vanili
Dunia dalam Periode 1994-2002






III. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tanaman vanili, digunakan pada industry pangan dan non pangan
2. Jalur pemasaran tanaman vanili bergantung pada variasi permintaan dan penawaran yang diberlakukan antara petani dan pembeli
3. Terdapat rantai tata niaga yang panjang dalam pemasaran tanaman vanili hingga sampai ketangan konsumen
4. Harga jual vanili untuk pasar domestic dan interasional, bergantung pada kualitas vanilli yang dihasilkan. Dan memiliki variasi yang berbeda diantara keduanya.













DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005.Harga Vanili Indonesia Hancur, http://www.kapanlagi.com, Akses Tanggal 27 April 2010, Makassar.

, 2006. Peluang Vanili Indonesia di Pasar Vanili Dunia Masih Terbuka, http://www.kadin-indonesia.or.id, Akses Tanggal 27 April 2010, Makassar.

, 2008.Pengolahan dan Pengeringan Buah Vanili, http://foragri.blogsome.com. Akses Tanggal 28 Maret 2010, Makassar.
, 2010a.Vanili, http://www.wikipedia.org , Akses Tanggal 27 April 2010, Makassar.

, 2010b, Perkebunan Vanili, http://www.bi.go.id/web, Akses Tanggal 14 April 2010, Makassar.

, 2010c, Pertanian dan Perkebunan Indonesia, http://www.wikipedia.org, Akses Tanggal 14 April 2010, Makassar.


, 2010d, Terus Turun, Eksportir Vanili Indonesia dibawah Uganda, http://balittri.litbang.deptan.go.id, Akses Tanggal 14 April 2010, Makassar.

Hadipoetyanti Endang, Ruhnayat Agus, Udarno Laba, 2007, Teknologi Unggulan Vanili, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), Bogor.
Setiawan, Iwan, 2004, Transformasi Model Pengembangan Vanili (Vanilla planifolia A.) Sebagai Komoditas Agribisnis Unggulan Menuju Penguasaan Pasar Dunia Secara Berkelanjutan (Studi Literatur di Indonesia), Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjajaran, Bandung.